Time

Rabu, 29 Desember 2010

Tarian Tana Toraja

Tarian Burake

Tarian ini berasal dari bagian Barat Tana Toraja yaitu Kecamatan Bonggakaradeng. Tarian ini merupakan tarian pemujaan kepada Puang Marua can Deata (Aluk Todolo).
Ditarikan oleh gadis-gadis bangsawan dengan iringan musik yaitu suling lembang, musik gesek yaitu geso'-geso', gendang tangan yang kecil yaitu Kamaru (Garapung) dan gendang besar yaitu Gandang Boro. Tarian ini diantar dengan sebuah lagu berjudul : Kamma'-kamma'ku To Lino (Lagu khusus pemujaan).
Pakaian yang digunakan sangat spesifik yaitu Bayu Nene' Barandilau, Basserarang, Dodo orang. Perhiasannya terdiri dari Sa'pi' Ulu, Tida-tida, Ponto Kati, Sassang, Rara' dan Orang-orang serta hiasan khas yaitu Kanuku Deata (kuku dewa-dewi). Untuk kaum lelaki menggunakan Seppa' Todolo/Seppa' Tallubuku, Bayu Pokko' Muane, Sambu', Talingka' sapu', La'bo Pinai, semuanya adalah bagian dari tradisional lelaki ditambah hiasan dari manik-manik.

Tarian Dau Bulan

Sama dengan tarian Burake, namun tarian ini adalah Tari kreasi baru yang diciptakan oleh keluarga Tonglo dan berasal dari Kecamatan Bonggakaradeng.
Tarian ini dipergelarkan sebagai tarian pengucapan syukur kepada Puang Matua atas berkatnya terutama keberhasilan panen.
Pakaian dan perhiasan yang dikenakan oleh para penari hampir sama dengan tarian Burake namun lebih sederhana. Alat musik pengiring dahulu kala digunakan lesung panjang namun pada saat sekarang ini telah diganti dengan gendang.
Juga tarian ini memiliki lagu khusus yang dikenal dengan judul Dao Bulan Da'mu mallun len, yang berarti permohonan kepada sang Pencipta agar berkatNya senantiasa dilimpahkan pada umat manusia sama seperti terangnya bulan yang senantiasa bersinar.

Tarian Ma'badong
Penari membuat lingkaran yang saling mengkaitkan jari-jari kelingking. Penari bisa pria juga bisa wanita setengah baya atau tua.
Biasanya mereka berpakaian serba hitam namun terkadang berpakaian bebas karena tarian ini terbuka untuk umum.
Tarian ini hanya diadakan pada upacara kematian ini bergerak dengan gerakan langkah yang silih berganti sambil melantunkan lagu (Kadong Badong) yang syairnya berisikan riwayat manusia mulai dari lahir hingga mati dan do'a, agar arwah si mati diterima di negeri arwah (Puya) atau alam dialam baka.
Tarian Badong ini biasanya berlangsung berjam-jam, sering juga berlangsung semalam suntuk. Perlu diketahui bahwa hanya pada upacara pemakaman yang lamanya tiga hari/malam ke atas yang boleh dilaksanakan tarian Badong ini atau khusus bagi kaum bangsawan.

Tarian Ma'dandan

Tarian ini berintikan pemujaan dan doa-doa yang disampaikan kepada Puang Matua dan Deata(dalam Aluk Todolo) pada syukuran panen atau pun tahbisan rumah adat. Ditarikan oleh sekelompok orang wanita.
Pakaian dan perhiasannya serta peralatan yang digunakan cukup sederhana, yaitu pakaian / baju Toraja/Bayu Bussuksiku dan memakai hiasan kepala (sa'pi') yang menyerupai segitiga bagian rumah di bawah atap (lindo para).
Peralatan mereka adalah tongkat dan kaleng kecil yang diisi kerikil kecil sehingga berbunyi gemerincing apabila diketukkan pada tongkat. Mereka bergerak dengan lemah gemulai menggoyangkan tongkat dan diiringi irama nyanyian khusus untuk Ma'dandan.

Tarian Ma'katia

Tarian duka untuk menyambut keluarga dan kerabat yang menghadiri upacara pemakaman seorang bangsawan.
Penari berpakaian adat Toraja secara seragam dengan memakai sa'pi'. Dengan gerak gemulai diiringi lantunan lagu duka untuk menyatakan bahwa mereka juga turut berbagi duka dan dapat menghibur keluarga yang berduka.
Tarian dimainkan saat rombongan keluarga ataukerabat (totongkon), memasuki arena penerimaan tamu (lantang Karampoan).

Tarian Manganda'

Tarian ini dipentaskan oleh kaum pria yang mempergunakan tanduk kerbau dan hiasan uang-uang logam kuno (oang) sebagai hiasan kepala ditambah dengan kain mawa' tua terjumbai ke belakang. Para penari menggunakan juga lonceng/bel kecil yang selalu dideringkan pada saat menari dan bunyinya sangat merdu dan ritmik.

Gerakan tarinya sering dibarengi lengking teriakan yang mengejutkan penonton Tarian Manganda' adalah tarian pemujaan yang dipentaskan pada upacara Merok atau Ma'Bua'.




Tarian Manimbong

Tarian Manimbong juga merupakan tarian pemujaan dan doa pada upacara syukuran. Perbedaannya ialah tarian ini hanya ditarikan oleh kaum pria.
Pakaian, hiasan dan perlengkapan mereka terdiri dari pakaian khusus untuk pria yaitu Bayu Pokko' dan Seppa Tallu Buku dan berselempangkan kain tua/antik yakni Mawa' serta mengenakan hiasan kepala yang terbuat dari bulu burung bawan atau bulu ayam yang cantik.
Perlengkapan mereka yaitu parang kuno (la'bo' pinai) dan sejenis tameng bundar kecil yang bermotif ukiran Toraja. Gerakan mereka juga diiringi dengan syair lagu khusus.
Tarian Manimbong sering dikombinasikan dengan Tarian Ma'dandan dengan gerakan yang diiringi oleh irama yang sama, walaupun tempat penari pria dan wanita saling bertukaran tempat ke depan dan ke belakang, berdiri dan berlutut, dengan diiringi sentakan
gerakan-gerakan kaki.

Tarian Memanna

Tarian ini khusus ditarikan pada upacara penguburan orang mati karena terbunuh. Penarinya terdiri dari lelaki yang menyeramkan dengan pakain compang-camping dari tikar robek, ikat kepala dari rumput padang-padang, senjatanya dibuat dari bambu, perisainya terbuat dari pelepah pinang atau kulit batang pisang.
Tarian ini sangat jarang ditemukan karena jarang terjadi pembunuhan. Dengan syair-syair penari yang sedih dan menakutkan bergerak mundur majus ambil mengutuk si pembunuh yang kejam.

Tarian Pa'Bondesan

Pa'bondesan merupakan tarian pemujaan di mana penarinya kaum lelaki. Para penari bertelanjang dada dan hanya mengenakan semacam selendang yang diselempangkan dari bahu ke pinggang secara diagonal. Mereka juga mengenakan kuku palsu yang disebut kuku setan kanuku bombo, dan hiasan kepala yang khas seperti bando dihiasi dengan bambu kesil penuh guntingan-guntingan kertas disebut Pangarru'.
Gerakan dalam tarian ini, senantiasa berputar di tempatnya mengikuti irama suling yang ditiup oleh empat orang pemain suling (tidak ikut menari). Alunan suling tersebut sangat menarik dan menyentuh perasaan.

Tarian Ma'Gellu'

Gellu' Pangala' adalah salah satu tarian tradisional dari Tana Toraja yang dipentaskan pada acara pesta "Rambu Tuka" juga tarian ini ditampilkan untuk menyambut para patriot atau



 pahlawan yang kembali dari medan perang dengan membawa kemenangan. Tetapi tarian ini tabu atau pamali dipentaskan pada acara "Rambu Solo".

Tarian Pa'pangngan

Tarian ini dipentaskan oleh gadis-gadis cantik berpakaian Toraja secara lengkap yang warnanya agak hitam atau agak kegelapan.
Gerakan mereka diiringi oleh alunan bunyi suling lembang dan alunan lagu duka (pa'marakka').
Gerakan penari merupakan ucapan selamat datang dan penyuguhan sekapur sirih (Pangngan) dan diakhiri dengan ucapan terima kasih dan pernyataan pamit.

Tarian Pa'randing

Tarian ini khusus untuk menghormati para pahlawan perang yang akan pergi berperang atau baru tiba dari medan perang.
Penarinya terdiri dari 2 atau 3 bahkan lebih dan hanya ditarikan oleh laki-laki dan biasanya berasal dari rumpun keluarga yang sama.


Perlengkapan dan hiasan yang dikenakan adalah :
  • Balulang: yaitu perisai yang dibuat dari kulit kerbau yang sudah diawetkan dan sangat kuat.
  • Doke, Tombak, La'bo' Todolo (Parang antik), Tanduk: tiruan tanduk kerbau yang terbuat dari kuningan,
  • Tora: taring binatang buas yang pernah dibunuh oleh leluhur penari,
  • Usuk Tau: tulang rusuk manusia yang dipakai sebagai kalung.
  • Pempaya': rambut binatang liar yang melambangkan sebagai pemburu yang berani.
  • Pangngarru': tongkat yang terbuat dari tangkai enau sebagai kompas.
Bayu dan seppa tallu buku: celana tradisional laki-laki Toraja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar